Aku Bergaya Maka Aku Ada
Penulis: Abdul Majid
David Chaney misalnya yang mengatakan bahwa gaya hidup adalah pola-pola tindakan yang membadakan antara satu orang dengan orang lain. Dari penjelasan David Chaney tersebut kita bisa menarik kesimpulan bahwa gaya hidup adalah setiap perilaku dan praktik hidup yang mencirikan status sosial seseorang.
Menurut Roland Barthes makanan, minuman, pakaian, mobil dan semuanya, itu adalah suatu tanda bahwa, untuk menunjukkan status sosial masyarakat kita bisa melihat baju, makanan, minuman dan lain sebagainya yang digunakan oleh masyarakat tersebut, karena semua hal itu adalah simbol. Yang artinya adalah gaya hidup dapat membantu mendefinisikan sikap, nilai-nilai, kekayaan serta status sosial kita dalam masyarakat.
Pada prinsipnya gaya hidup adalah bagaimana seseorang menghabiskan waktu dengan aktifitas-aktifitasnya. Ada orang yang senang mencari hiburan bersama teman-temannya, ada yang senang menyendiri, ada yang suka bepergian bersama keluarga, bebelanja, dan ada pula yang melakukan aktifitas dinamis. Dan status sosial berbicara soal kedudukan seseorang didalam kelompok atau masyarakat, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya hidup sangat berpengaruh untuk menggambarkan status sosial masyarakat.
Gaya hidup dapat menggambarkan status sosial masyarakat. Dari cara berpakaian misalnya, masyarakat yang menggunakan pakaian mahal dan bermerk dapat menggambarkan bahwa status sosial masyarakat tersebut berada pada kelas menengah keatas, sedangkan masyarakat dengan pakaian buluk dan tak bermerk dapat ditebak bahwa dia berada pada status sosial kelas bawah. Semakin mahal atau semakin tinggi komponen-komponen yang mendukung gaya hidup suatu masyarakat, maka semakin tinggi pula kelas dalam status sosial masyarakat tersebut.
Hal ini tentu juga menjadi kabar baik untuk para pemilik modal, hal ini lebih didukung dengan sifat masyarakat indonesia yang cenderung konsumtif. Pakaian bermerk, smartphone dan tempat tinggal yang mewah, mungkin menjadi sedikit dari sekian banyaknya komponen penunjang gaya hidup yang dapat dijadikan pemilik modal sebagai lahan pencetak uang. Masyarakat konsumen pasti akan meras ketinggalan zaman dan minder ketika tidak membeli dan memiliki produk-produk terbaru yang dipersepsi sebagai bagian dari identitas atau simbol status sosial masyarakat.
Kebutuhan terus-menerus untuk selalu berbelanja maupun menunjukkan gaya hidup agar selalu tampak menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman adalah peluang bagi perusahaan-perusahaan atau kekuatan industi komersial untuk terus memproduksi sekaligus mendefinisikan bagaimana seseorang harus hidup dan tampil ditengah perkembangan zaman yang makin global.
"Aku Bergaya Maka Aku Ada". Ini mungkin menjadi slogan yang cocok untuk menggambarkan kehidupan masyarakat saat ini yang menjadikan gaya hidup sebagai tolak ukur perbedaan status sosial masyarakat, masyarakat yang berada pada status sosial kelas atas akan lebih dipandang dibanding masyarakat yang berada pada status sosial kelas bawah.


