Tuesday, December 24, 2019

Aku Bergaya Maka Aku Ada
Penulis: Abdul Majid

Gaya Hidup masyarakat semakin hari semakin berkembang mengikuti perubahan zaman yang mengacu dan bergerak pada modernitas. Gaya hidup bisa dikatakan menjadi sebuah tren dan kebutuhan bagi setiap masyarakat. Gaya hidup atau lifestyle jika dikaitkan dengan status sosial, sepertinya adalah dua hal yang tidak bisa untuk dipisahkan, karena mau tidak mau suka tidak suka, kita hidup didalam susunan masyarakat, sedangkan gaya hidup berperan untuk memperlihatkan eksistensi kita dalam bermasyarakat.
        David Chaney misalnya yang mengatakan bahwa gaya hidup adalah pola-pola tindakan yang membadakan antara satu orang dengan orang lain. Dari penjelasan David Chaney tersebut kita bisa menarik kesimpulan bahwa gaya hidup adalah setiap perilaku dan praktik hidup yang mencirikan status sosial seseorang.
Menurut Roland Barthes makanan, minuman, pakaian, mobil dan semuanya, itu adalah suatu tanda bahwa, untuk menunjukkan status sosial masyarakat kita bisa melihat baju, makanan, minuman dan lain sebagainya yang digunakan oleh masyarakat tersebut, karena semua hal itu adalah simbol. Yang artinya adalah gaya hidup dapat membantu mendefinisikan sikap, nilai-nilai, kekayaan serta status sosial kita dalam masyarakat.
        Pada prinsipnya gaya hidup adalah bagaimana seseorang menghabiskan waktu dengan aktifitas-aktifitasnya. Ada orang yang senang mencari hiburan bersama teman-temannya, ada yang senang menyendiri, ada yang suka bepergian bersama keluarga, bebelanja, dan ada pula yang melakukan aktifitas dinamis. Dan status sosial berbicara soal kedudukan seseorang didalam kelompok atau masyarakat, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya hidup sangat berpengaruh untuk menggambarkan status sosial masyarakat.
      Gaya hidup dapat menggambarkan status sosial masyarakat. Dari cara berpakaian misalnya, masyarakat yang menggunakan pakaian mahal dan bermerk dapat menggambarkan bahwa status sosial masyarakat tersebut berada pada kelas menengah keatas, sedangkan masyarakat dengan pakaian buluk dan tak bermerk dapat ditebak bahwa dia berada pada status sosial kelas bawah. Semakin mahal atau semakin tinggi komponen-komponen yang mendukung gaya hidup suatu masyarakat, maka semakin tinggi pula kelas dalam status sosial masyarakat tersebut.
       Hal ini tentu juga menjadi kabar baik untuk para pemilik modal, hal ini lebih didukung dengan sifat masyarakat indonesia yang cenderung konsumtif. Pakaian bermerk, smartphone dan tempat tinggal yang mewah, mungkin menjadi sedikit dari sekian banyaknya komponen penunjang gaya hidup yang dapat dijadikan pemilik modal sebagai lahan pencetak uang. Masyarakat konsumen pasti akan meras ketinggalan zaman dan minder ketika tidak membeli dan memiliki produk-produk terbaru yang dipersepsi sebagai bagian dari identitas atau simbol status sosial masyarakat.
    Kebutuhan terus-menerus untuk selalu berbelanja maupun menunjukkan gaya hidup agar selalu tampak menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman adalah peluang bagi perusahaan-perusahaan atau kekuatan industi komersial untuk terus memproduksi sekaligus mendefinisikan bagaimana seseorang harus hidup dan tampil ditengah perkembangan zaman yang makin global.
    "Aku Bergaya Maka Aku Ada". Ini mungkin menjadi slogan yang cocok untuk menggambarkan kehidupan masyarakat saat ini yang menjadikan gaya hidup sebagai tolak ukur perbedaan status sosial masyarakat, masyarakat yang berada pada status sosial kelas atas akan lebih dipandang dibanding masyarakat yang berada pada status sosial kelas bawah.
Islam Yang Kian Menjadi Ancaman

Penulis: Abdul Majid

Islam adalah agama samawi yang diturunkan allah kepada muhammad melalui malaikat jibril, bermula ketika wahyu pertama diturunkan kepada muhammad di gua hira. Islam dalam arti yang luas berkaitan erat dengan keselamatan dan kedamaian, islam hadir sebagai solusi untuk menjawab persoalan sosial, bukan hanya menjadi solusi untuk untuk saudara seiman saja tetapi harusnya juga menjadi solusi untuk sesama umat beragama.

Pada dasarnya islam merupakan agama yang sangat revolusioner dan transformatif. Pada masa Nabi Muhammad SAW islam mampu hadir sebagai kekuatan revolusioner yang mengubah tatanan sosial masyarakat, dari jahiliyah menjadi masyarakat yang memiliki peradaban, menyatukan seluruh suku Arab yang tadinya bermusuhan dan saling menguasai, membebaskan perbudakan, memberantas buta huruf, dan lain sebagainya.

Dalam perjalanan panjangnya sampai hari ini, islam yang berkaitan erat dengan kemanusiaan mengalami pergeseran nilai. Banyak persoalan kemanusiaan yang hanya menjadi tontonan, bahkan umat islam sendiri yang kadang menjadi pemicu terjadinya persoalan kemanusiaan tersebu.

Salah satu contohnya mungkin adalah maraknya pelarangan merayakan hari raya keagamaan oleh umat kristiani yang terjadi di beberapa daerah di indonesia. Sehingga islam terlihat menjadi ancaman untuk umat beragama lainnya.

Pertanyaanya adalah apakah ada yang salah ketika umat kristiani merayakan hari raya keagamaannya dan umat islam mengucapkan selamat untuk hari raya keagamaan mereka? Bukankah mengimani kenabian yesus dan kebenaran injil merupakan salah satu rukun iman dalam islam.

Dan lagi Yesus menawarkan kerajaan sorga untuk memutus mata rantai kekerasan romawi pada masanya, ia terlibat melawan kebatilan, kekerasan dan penghinaan atas kemanusiaan dengan pengajaran jalan cinta kasih.

Jika ditelisik dari sejarahnya Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya ketika menjadi pemimpin di eranya masing-masing tidak pernah melarang dan menghalangi pelaksanaan ajaran umat kristiani. Apalagi di Indonesia sendiri kebebasan beragama dan menjalankan keyakinan telah dijamin oleh UUD 1945.

Terjadinya pergeseran nilai yang terdapat pada ajaran islam yang harusnya hadir sebagai agama kedamaian dan kemanusiaan, seolah memperkuat pernyataan marx yang mengatakan bahwa agama adalah candu. Islam hari ini seolah hanya hadir untuk memberi mimpi-mimpi surga dan juga bidadari, sehingga umat islam hanya terfokus pada peribadatan individu saja bahkan menghilangkan ruang untuk agama lain dalam menjalankan aktivitas keagamaannya hanya untuk mengejar mimpi-mimpi surga dan bidadari.

Dalam momen perayaan Natal ini harusnya kita sebagai umat islam meletakkan islam pada substansinya, Islam adalah agama yang damai yang peduli dengan urusan kemanusiaan. Kita harusnya sadar bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk memilih dan menjalankan kepercayaannya masing-masing tanpa harus ada intervensi dari kita yang mengaku muslim. Mudah-mudahan hikmah cinta kasih dari perayaan natal ini bisa kita sama-sama dapatkan.

Selamat merayakan hari Natal untuk umat krisriani.
Tetap damai untuk indonesia.

Monday, December 23, 2019

Berwarga Indonesia, Beribadah Membuat Takut


penulis : Sahabat Sabhadin 

Bagi umat beragama, ibadah merupakan ekspresi untuk menyembah Tuhannya. Ibadah adalah ritual untuk menundukan diri di hadapannya, sekaligus menyatakan diri kita amat lemah hingga membutuhkan kekuatan dari kebesarannya.

Tak hanya bentuk kerendahan diri, Ibadah juga cara mengekspresikan kerinduan pada sang pencipta. Dengan Ibadah, transaksi diucapkan untuk meretas rasa rindu, juga gejolak jiwa yang bertengkar karna rasa ingin temu yang tak berkesudahan. Terucap dalam jumpa peribadatan meski tak terlihat oleh mata indrawi.

Umat Islam, Kristen, Katolik, Konghucu, Hindu, Budha hingga Yahudi pun melakukannya. Mereka beramai-ramai menjalankan spiritualitas itu, apa lagi menjelang hari besar agama-agama.

Di hari itu, bukan saja hanya Islam dengan Idhul fitri-nya, Kristen dengan Natalnya, Budha dengan Waisaknya, Hindu dengan hari Nyepinya, begitupun yang lainnya.

Di hari besar itu, rasa senang, gembira meniadakan rasa sedih dan letih duniawi, untuk orang-orang kaya-miskin, semua sama di hari itu. Sebab dihari itu, tak ada yang berharga dari segalanya kecuali merayakannya.

Tapi tidak menjadi warga negara di Indonesia bagi kaum minoritas. Mereka selalu dihantui rasa ketakutan. Ber-Tuhan bukan lagi berlindung di atas kuasa Tuhannya, tapi sedang beruji nyali seberapa kuat menanggung ancaman demi ancaman kelompok mayoritas.

Sebut saja yang beragama Kristen. Tiap hari perayaan hari besar Natal, peristiwa buruk tidak hanya datang sekali saja. Dari pelarangan, persekusi, hingga bom di hari raya pernah di Alamo. Kemarin lalu pun mendapatkan duka itu di Sumatra, pelarangan itu terus-menerus terjadi. bukan sesekali terjadi, ketakutan itu tiap tahun berulang kali di tempat dan ruang yang berbeda.

Beragama menjadi takut meski agama mengajarkan keberanian. Bertuhan menjadi khawatir meski Tuhan maha segalanya.

Kepada siapa lagi mengadu, jika menjadi Atheis justru hanya meniadakan Tuhan maha pelindung. Sementara manusia butuh perlindungan jiwa, karena manusia rentan sakit akibat kefanaan dunia yang tidak menampakan sisi surgawi.

Bukan karena Indonesianya, tapi beragama minoritas sekaligus berwarga di Indonesia yang mungkin dianggap salah. Apakah karena kesalahan minoritas memilih menjadi Kristen ataukah karena tidak mengikuti agama mayoritas?

Jika Tuhan bisa diganti dengan sosok yang lain, maka di mana ke-Esa-annya yang tiada duanya itu?

Jika Rene Descartes mengatakan, "Aku berpikir maka aku ada", maka saya yang beragama Islam akan berkata "Aku beragama maka aku ber-Tuhan, Dan aku percaya Tuhanku dalam agamaku", begitupun yang lain, akan demikian. Termasuk Kristen dan lainnya.

Untung saja masih ada Anshor banser yang sedikit mengurangi ketidak-nyamanan umat Kristen yang berhari raya Natal. Bukan mengagungkan Banser, tapi merekalah yang berwarga sipil menjadi penlindung di hari Natal itu. Ia, bukan karena bansernya, mungkin saja Tuhan melihat kekhawatiran ini hingga Kuasanya menggerakannya ataukah kasih Tuhan ada padanya hingga kasihnya mewujud mencintai umat Kristen yang sedang ber-Natal.

Thursday, December 19, 2019

UU Penodaan Agama Menguatkan Oligarki
penulis:Kanda Sahabat Sabhadin

Kemungkinan besar, Undang-Undang Penodaan agama menjadi faktor utama melemahnya gerakan rakyat sipil “yang notabene mayoritas islam”, disaat bersamaan semakin menguatnya oligarki politik dan ekonomi menguasai seluruh akses politik dan ekonomi Negara. UU PNPS No.1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, yang oleh negara, tujuannya melindungi dan mencegah terjadinya kasus penistaan terhadap agama tertentu, namun dalam kenyataannya, seringkali justru menjerat rakyat dan Tokoh agama, anehnya tidak sedikit dijadikan alat untuk mempolemikkan hal-hal yang kurang substansial dari seluruh persoalan fundamental di negara kita. 

Konflik horizontal sering terjadi karna Undang-undang ini dan membenturkan masyarakat sipil dengan isu agama secara provokatif, perseteruan antar kelompok agama yang menyita waktu begitu lama dan menguras energi banyak jika dilakukan untuk hal produktif untuk kepentingan kemajuan negara. Konflik yang biasanya diawali dari ketersinggungan salah satu pihak terhadap ucapan oknum yang sebenarnya bisa saja terselesaikan jika proses tabayyun atau proses kultural lainnya dilakukan. Namun karna sentimen keagamaan masyarakat yang kuat berbarengan dengan fanatisme politik yang berlebihan, yang oleh negara memberi ruang ekspresi bagi pembelaan dan kemarahan melalui Undang-Undang ini. 

Apakah Negara benar-benar melindungi kesucian agama melalui Undang-undang ini atau justru sebaliknya menjadi intrumental komunikatif negara untuk memperkokoh kekuasaan dengan memanfaatkan fanatisme keagamaan masyarakat dengan pola menghidupkan dikotomisasi radikalisme dan liberalisme agama dengan tujuan memperdayakan undang-undang penodaan agama sebagai alat hegemoni pengalihan isu yang oleh rakyat sekan-akan menganggap negara hadir menjadi alat kontrol terhadap menjaga kesucian agama dari perilaku manusia yang menghina satu kepercayaan agama tertentu ? 

Terlepas dari maksud idealnya, jika ditinjau dalam kacamata empirik dan kritis, undang-undang ini bukan saja menjerat secara individu dari masyarakat kita, seperti yang dirasakan oleh Ahok, Meiliana dan individu lainnya, atau secara kolektif menjadi api dari sumbu emosi yang membakar kemarahan antar kelompok, tapi ada yang jauh lebih besar dari itu, yaitu melemahnya gerakan rakyat sipil, secara bersamaan menguatnya kekuasaan politik dan oligarki ekonomi. 

Kefanatikan terhadap agama merupakan suatu hal yang manusiawi bagi siapa yang meyakini, mempercayai serta mengagungkan ajaran agamanya, sebab menjadi umat yang taat terhadap agama, fanatisme perlu untuk memperkokoh keyakinan dan menjadi umat yang total beragama. 

Mungkin saja, Kekuasaan memanfaatkan fanatisme agama ini menjadi intrumen baginya untuk memperlancar misi dan ambisi kuasanya, atau juga memperlancar relasinya dengan pemodal besar dengan menghidupkan diskursus dikotomi radikalisme agama disatu pihak dan liberalisme agama dipihak lain untuk menciptakan polarisasi yang tajam dipermukaan. Sebab jika keyakinan diadu, akan selalu menimbulkan tindakan reaksioner jika disinggung dan diperdebatkan dalam ruang publik. 

Sulit untuk melacak secara pasti ketersaling-hubungan antara penguasa dan pengusaha dalam relasinya, namun secara sederhana kita bisa menjumpai bagaimana masalah fundamental sering kali absen menjadi perhatian banyak kalangan, termasuk kelompok agama yang mengklaim diri menjadi penerus pembawa ajaran agama kepercayaannya atau perintah Tuhannya yang didalamnya membawa kebaikan sebab masyarakat disibukan dengan perdebatan yang justru destruktif untuk keberlangsungan perbaikan Negara kita. 

Lihat saja seberapa banyak masyarakat indonesia yang merespon penggusuran yang mengorbankan rakyat kehilangan rumahnya, reklaiming tanah oleh Negara yang menyebabkan tanah rakyat semakin terokupasi, kerusakan lingkungan, akses ekonomi rakyat yang semakin sulit karna infrastruktur, masalah ketenagakerjaan seperti upah minimum, PHK sepihak, investasi yang tidak memihak pada rakyat kecil, hal-hal fundamental itu justru jarang disuarakan oleh masyarakat kita sebab telah di giring oleh isu agama dalam hal pembelaan terhadap kelompoknya maupun penyerangan terhadap pihak tertentu melalui legitimasi undang-undang penodan agama ini. 

Belum lagi berbagai masalah RUU yang masih di polemikkan, kasus korupsi, kriminalisasi petani, buruh, kaum miskin desa dan kota, pejuang dan aktivis gerakan rakyat, masalah HAM masalalu, pelanggaran HAM di papua yang juga masih belum terselesaikan dan berbagai kebijakan baru yang merugikan masyarakat kecil begitu jarang di suarakan karna disibukkan dengan isu radikalisme agama dan isu penodaan agama lainnya.

Kita bisa melihat, akhir-akhir ini, Ahmad Muwafieq atau Gus Muwafieq menjadi dipolemikkan atas ucapannya yang dinilai merendahkan Nabi Muhammad, dengan menggunakan pendekatan epistemologi keilmiahan modern dan analisa bahasa semata, tanpa melakukan proses objektivikasi dalam pendekatan yang lain untuk memahami maksud esensial secara benar dan mengungkap maksud hati diluar dari bahasa konvensional. Dari polemik itu, berbagai upaya dilakukan oleh beberapa kelompok, baik yang membela maupun yang menyerang, beradu gagasan hingga beradu kekuatan. Sementara banyak yang tidak menyadari bahwa pemiskinan, perampasan ruang hidup, penyengsaraan dan berbagai penyiksaan rakyat adalah termasuk penghinaan terhadap martabat kemanusiaan dan penistaan terhadap karya dan manifestasi Tuhan itu sendiri.
(10 Desember 2019)
AKU DAN CERITA
Karya: Ary Bethan

Singkat bagai puisi
Bertopeng bak majas
Sulit tuk diarti

Kau antar aku didepan pintu
Waktu tertatih kakiku melangkah
Menerobos tajamnya kerikil menusuk kaki...

Namun kobaran api semangatmu
Selalu menjadi tongkat disaatku terjatuh
Kau mengajariku tuk bagaimana caranya berjalan lagi...

Meski kau hanya mampu memberiku semangat,,
Tapi kau tak pernah membiarkanku
Berjalan sendiri tanpa tapak yang tak beralas
Dan kau tak pernah membiarkanku
Berjalan sendiri tanpa ada kau dibelakangku...

Begitu sulit ku artikan tentang cucuran keringatmu
Yang rela kau jual demi ku melihat indahnya pelangi
Mengapa kau berperan tak pernah berhenti...??

Apakah tak lelah kakimu berjalan
Dari kau memulai ceritamu
Hingga mengajariku apa arti perjuangan...
Dengan apa harus ku basuh keringatmu...??

Apakah hanya dengan kata konyol
Yang artinya pun sudah dipandang tak punya makna lagi
Harus ku berikan kepadamu...??
Aku tak ingin melihat pelangi jika masih ada mendung di matamu...

Ibu,,, Ayah...
Aku binggung harus menuturkan apalagi
Tentang pengorbanan yang kau sulap menjadi pelangi untukku...

Ibu,,, Ayah...
Aku binggung
Dengan apa harus ku balas jasamu selama ini...
Apakah pantas hanya dengan kata TERIMA KASIH
Ku persembahkan untukmu...??

Berbisik_hati_di_persimpangan_jalan

Adonara, 29 Februari 2017
AYAH
( Alm Bapak Ibrahim Abdurrahman)
Karya: Ary Bethan

Sang fajar  pagi membangunkan dari tidurnya
Setiap fajar pagi kau selalu mengutamakan waktu,,
Untuk menjalani kewajibanmu...

Dengan gagah kau memakai baju kamija dan celana kain tisu
Dan di iringi sepatu hitam yang indah
Jalanmu itu menunjukan ketempat dimana kewajibanmu itu diansurkan...

Tapi hari ini,,
Dan pagi ini kau tidak terbangun
Matamu tertutup untuk selamanya
Pakaianmu di ganti dengan kain putih dan ditutupi kain kavan...

Hari ini semua menyaksikan bahwa kau telah tiada
Kau telah tiada untuk sekarang dan selamanya
Semua insan mendesir menangis dan bertanya

Siapa yang akan menjadi sosok ayah dari 3 anak ini...??
Ayah kaulah sosok inspirasi kami...

Waikewak, 19 Agustus 2018
TAKWAMU BERSABDA RINDU
Karya : Ary Bethan

Kau hadir dalam dekapku
Memang ku harapkan menjadi salju
Terangmu adalah aksimu
Membawa asa terbang bersama ibu...

Ikhtiar dan takwamu mengajarkanku
Untuk mengintip singasana tuhan
Kau ajariku tuk menahan pilu
Kau bentangkan sajadahmu menuju pintu belakang surga...

Kini bayang telah berubah menjadi bayang-bayang
Rindu kian datang menerjang hariku
Namun hati nuraniku berkata
Kaulah ikhtiar batinku...

Adonara,  28 April 2017

Relasi Keserakahan Manusia dengan Virus Corona melalui Puisi Corona karya Bethan'

CORONA Karya : Bethan'              (Pengurus PMII RAYON FISIP UIM) Tuhan tengah memperlihatkan kuasanya Pada manusia-man...